Hari ini saya akan mengkaji Penelitian Hipnoterapi pada Gangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID) pada jurnal yang berjudul “Gut‐focused hypnotherapy for Functional Gastrointestinal Disorders (FGID): Evidence‐base, practical aspects, and the Manchester Protocol” Unit Neurogastroenterologi, Gastroenterologi, Rumah Sakit Wythenshawe Trust NHS Universitas Manchester, Manchester, UK Divisi Diabetes, Endokrinologi & Gastroenterologi, Pusat Ilmu Kesehatan Akademis Manchester, Universitas Manchester, Manchester, UK
Korespondensi Dipesh H. Vasant, Konsultan Gastroenterolog & Pembimbing Senior Neurogastroenterologi Unit, Rumah Sakit Wythenshawe, Trust Universitas Manchester, Manchester, UK.
Hipnoterapi yang Terfokus pada Gangguan Usus
Hipnoterapi yang terfokus pada gangguan usus adalah suatu pendekatan terapi yang menggunakan hipnosis untuk mengatasi gangguan pencernaan, seperti sindrom usus iritabel (IBS) atau gangguan gastrointestinal fungsional lainnya. Dalam terapi ini, seorang terapis yang terlatih menggunakan teknik hipnosis untuk membantu pasien mencapai tingkat relaksasi yang dalam.
Selama sesi hipnoterapi, pasien diberikan saran dan sugesti yang bertujuan untuk mengubah persepsi mereka terhadap gejala pencernaan mereka, mengurangi rasa sakit, mengontrol perut mereka, dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Pendekatan ini dapat mencakup penggunaan imajinasi visual dan metafora yang terkait dengan fungsi usus untuk membantu pasien mengelola gejala mereka. Hipnoterapi yang terfokus pada gangguan usus telah terbukti efektif dalam mengurangi gejala dan meningkatkan kesejahteraan bagi banyak pasien dengan gangguan pencernaan fungsional.
Isi Penelitian Dipesh H. Vasant
Meskipun sudah banyak penelitian di bidang neurogastroenterologi, masih sedikit pengobatan ataupun terapi yang efektif untuk Gangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID). Sekitar 25% penderita mengalami gejala yang tidak membaik dengan terapi yang ada, yang tentu berdampak buruk pada kualitas hidup dan meningkatkan kebutuhan perawatan kesehatan yang lebih memadai. Hipnoterapi yang berfokus pada Gangguan gastrointestinal fungsional telah terbukti sangat efektif untuk FGID yang parah. Namun, masih banyak yang belum memahami dan meragukan metode ini.
Tujuan Penelitian
Tinjauan penelitian Hipnoterapi pada Gangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID) ini bertujuan memberikan gambaran tentang Hipnoterapi yang berfokus pada Gangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID), Serta bagaimana metode ini mempengaruhi interaksi antara usus dan otak, atau Gut-Brain Interactions serta bukti efektivitasnya Hipnoterapi pada FGID yang parah.
Gangguan gastrointestinal fungsional (FGID) adalah diagnosis umum dalam Gastroenterologi, dengan prevalensi sekitar 35%. FGID kini dianggap sebagai gangguan Gut-Brain Interactions “Interaksi Usus-Otak” dengan gejala yang mencakup gangguan Motilitas, Hipersensitivitas, perubahan fungsi Mukosa dan Imunitas, Mikrobiota Usus, dan Pemrosesan Sistem Saraf Pusat.
Meskipun ada kemajuan dalam diagnosis dan pemahaman tentang Gut-Brain Interactions atau interaksi usus-otak, pengobatan tetap sulit dilakukan, dan banyak pasien tidak puas dengan terapi konvensional yang ada saat ini.
Sekitar 25% pasien FGID mengalami gejala parah yang tidak membaik dengan terapi yang ada, mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis. Pendekatan yang menggunakan Gut-Brain Interactions “interaksi usus-otak”, seperti hipnoterapi yang terfokus pada gangguan usus, menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Berdasarkan bukti ilmiah dan pengalaman klinis, hipnoterapi dapat membantu mengurangi gejala gangguan pencernaan dengan mengatur kembali proses-proses patofisiologis yang mendasarinya.
Selain itu, penggunaan layanan kesehatan juga dapat berkurang karena efektivitas hipnoterapi dalam mengelola gangguan tersebut. Dengan kata lain, hipnoterapi diyakini dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam mengurangi gejala dan dampak gangguan pencernaan serta mengurangi ketergantungan pada layanan medis.
Meskipun awalnya ada skeptisisme, minat terhadap hipnoterapi dalam FGID meningkat, meskipun literatur masih terbatas. Beberapa tinjauan sistematis menunjukkan efektivitas hipnoterapi untuk gejala yang parah FGID.
Artikel ini bertujuan memberikan gambaran terbaru tentang dasar bukti dan aspek praktis hipnoterapi terfokus pada usus sebagai panduan bagi gastroenterolog yang merawat pasien FGID parah.
Tujuan dan Prinsip Hipnoterapi Terfokus pada FGID
Hipnoterapi biasanya dilakukan secara individual oleh Hipnoterapis terlatih selama 30-60 menit per sesi, setiap minggu selama 6-12 minggu. Hipnosis klinis adalah intervensi verbal yang menggunakan kondisi mental khusus atau Trance (Kondisi Hipnosis) untuk meningkatkan penerimaan terhadap sugesti, guna memfasilitasi perubahan psikologis dan fisiologis yang terapeutik.
Tujuan Hipnoterapi yang Fokus pada FGID
- Relaksasi Mendalam: Menginduksi relaksasi mendalam untuk membantu pasien belajar mengendalikan fungsi usus mereka.
- Edukasi Awal: Pada sesi pertama, pasien diberikan penjelasan tentang anatomi dan fisiologi dasar usus dengan cara yang mudah dipahami, serta bagaimana gangguan fungsi usus dapat menyebabkan gejala mereka.
Teknik dan Metafora
- Visualisasi Personal: Menggunakan imajinasi visual pasien tentang gangguan fungsional mereka untuk meningkatkan pengalaman terapi. Misalnya, menggunakan warna, ilustrasi, dan diagram anatomi.
- Kontrol Fungsi Usus: Pasien diajarkan serangkaian pendekatan untuk mengendalikan fungsi usus mereka, disesuaikan dengan profil gejala dan imajinasi pribadi mereka.
- Gangguan Usus Fungsional: Pasien diminta membayangkan usus mereka sebagai sungai dan mengatur alirannya sesuai kebutuhan, tergantung apakah mereka mengalami diare atau sembelit.
- Nyeri Perut: Menggunakan pendekatan taktil seperti menempatkan tangan di perut, merasakan kehangatan, dan menggunakan ini untuk mengurangi nyeri.
- Kembung Perut: Menggunakan metafora balon yang mengempis perlahan untuk mengurangi kembung.
Teknik ini sering dikombinasikan dengan teknik lain seperti mengajarkan pernapasan diafragma untuk membantu pasien mengendalikan gejala mereka.

Gambar 1 menunjukkan contoh ilustrasi dan imajinasi visual yang digunakan untuk menggambarkan gejala gastrointestinal fungsional, yang bertujuan untuk meningkatkan pengalaman hipnoterapi. Gambar-gambar ini diadaptasi dengan izin dari penelitian yang dilakukan oleh Carruthers HR, Morris J, Tarrier N, dan Whorwell PJ, yang dipublikasikan dalam jurnal Alimentary Pharmacology & Therapeutics pada tahun 2010.
Penelitian tersebut berfokus pada efektivitas hipnoterapi yang terfokus pada usus untuk mengatasiGangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID). Berikut adalah beberapa poin utama yang dijelaskan dalam penelitian tersebut:
Pengendalian Usus oleh Pasien
- Inti Hipnoterapi: Sesi hipnoterapi menekankan bahwa pasien memiliki kendali atas fungsi usus mereka. Hal ini bertujuan untuk memberdayakan pasien sehingga mereka tidak merasa bahwa usus mereka mengendalikan mereka.
- Mantra Penguatan: Prinsip ini ditekankan berulang kali untuk memperkuat keyakinan pasien terhadap kontrol diri mereka.
Pengelolaan Kecemasan dengan Masalah Terkait
- Strategi Tambahan: Selain menangani gejala usus, terapis juga memberikan saran dan strategi untuk mengatasi kecemasan atau ketakutan yang sering menyertai FGID.
- Kontrol Masalah Lain: Pengembangan kemampuan untuk mengendalikan masalah lain yang mungkin terjadi bersamaan dengan gangguan usus.
Efek Hipnoterapi pada Usus Terhadap Interaksi Usus-Otak
Efek Hipnosis pada Motilitas dan Fungsi Gastrointestinal
Hipnoterapi pada gangguan usus memiliki efek yang signifikan terhadap interaksi usus-otak, terutama dalam mengubah fungsi dan fisiologi gastrointestinal pada pasien dengan gangguan gastrointestinal fungsional (FGID).
Dalam traktus gastrointestinal atas, hipnoterapi telah terbukti mampu mengatur sekresi asam lambung, mempercepat pengosongan lambung, dan mengubah waktu transit Orocekal, yang diukur menggunakan tes napas Hidrogen Laktulosa.
Sementara itu, pada Traktus Gastrointestinal bawah, beberapa studi menunjukkan perubahan signifikan dalam fungsi sensorik dan motorik usus besar pada pasien dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS) setelah hipnoterapi, termasuk modifikasi aktivitas Refleks Gastrocolic setelah makan, perubahan dalam motilitas usus besar, dan penurunan hipersensitivitas visceral.
Namun studi oleh Lindfors dan rekan-rekan menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam fungsi pencernaan jangka panjang setelah hipnoterapi pada pasien dengan sindrom iritasi usus (IBS) yang memiliki beragam gejala. Ini berarti bahwa hipnoterapi tidak secara konsisten memengaruhi cara lambung dan usus bekerja dalam jangka waktu yang lama pada semua pasien IBS.
Kesulitan dalam memahami data ini adalah karena hipnoterapi yang digunakan bisa berbeda antara pasien yang memiliki gejala sembelit dan diare. Meskipun demikian, secara keseluruhan, terapi hipnoterapi yang difokuskan pada gangguan pencernaan menunjukkan potensi besar untuk mengubah cara usus bekerja pada pasien dengan gangguan pencernaan fungsional, meskipun hasilnya bisa berbeda tergantung pada jenis gangguan dan jenis terapi yang digunakan.
Mekanisme Hipnoterapi Terfokus pada Gangguan Usus
Meskipun mekanisme hipnoterapi yang terfokus pada gangguan usus masih belum jelas, beberapa studi menggunakan teknik pencitraan otak fungsional telah memberikan beberapa penjelasan yang masuk akal, menunjukkan bahwa hipnoterapi dapat menyebabkan perubahan dalam Neuroplastisitas.
Neuroplastisitas adalah kemampuan sistem saraf untuk mengatur ulang struktur dan fungsinya sebagai respons terhadap berbagai rangsangan intrinsik atau ekstrinsik berikutnya, misalnya neurogenesis hipokampus, arborisasi dendritik, pemangkasan, dan sinaptogenesis ( Martinez-Morga & Martinez, 2017 ).
Misalnya, beberapa studi telah mengamati aktivitas otak sebagai respons terhadap rangsangan Visceral yang menyakitkan pada pasien IBS. Berdasarkan penelitian ini, pemahaman saat ini adalah bahwa pasien dengan FGID yang menyakitkan memiliki sinyal abnormal dalam jalur aferen viseral dan amplifikasi nyeri sentral.
Pengaruh Hipnoterapi
Penemuan menarik ini mengindikasikan bahwa terapi hipnoterapi dapat mempengaruhi aktivitas di korteks Anterior Cingulate, sebuah bagian otak yang sensitif terhadap rangsangan nyeri visceral pada sindrom iritasi usus (IBS). Saat dilakukan pengobatan hipnoterapi yang bertujuan untuk mengubah cara tubuh merespons rangsangan nyeri tersebut, korteks Anterior Cingulate dapat dimodulasi. Hal ini menunjukkan bahwa hipnoterapi mungkin memiliki efek yang spesifik dalam mengubah cara otak merespons rasa sakit pada pasien IBS.
Penelitian tentang hipnoterapi dalam konteks nyeri kronis juga menunjukkan bahwa sugesti hipnotis untuk mengatur rasa sakit juga mempengaruhi daerah otak seperti prefrontal, insula, dan somatosensorik. Selain itu, terdapat bukti bahwa aktivasi otak dapat berbeda tergantung pada apakah sugesti hipnotis tersebut berkaitan dengan afek (emosi) dari rasa sakit atau intensitasnya secara langsung.
Hal ini menunjukkan bahwa hipnoterapi dapat memengaruhi aktivitas otak secara spesifik tergantung pada fokus sugesti yang diberikan, baik itu terkait dengan perasaan emosional dari rasa sakit atau tingkat keparahannya secara langsung.
Penurunan aktivitas otak di insula posterior
Selain itu, sebuah studi terkontrol baru-baru ini telah menunjukkan bahwa responden terhadap hipnoterapi dengan IBS sedang hingga parah memiliki penurunan aktivitas otak di insula posterior dan perbaikan gejala terkait dengan normalisasi respons otak yang diinduksi oleh rangsangan visceral yang menyakitkan.
Ini menunjukkan bahwa hipnoterapi dapat menghasilkan penurunan aktivitas otak di wilayah tertentu pada individu yang merespons positif terhadap terapi ini untuk IBS. Temuan ini mengindikasikan bahwa efek positif hipnoterapi pada gejala IBS mungkin terkait dengan perubahan dalam cara otak merespons rangsangan visceral yang menyakitkan. Hal ini menegaskan bahwa hipnoterapi memiliki potensi untuk membantu memperbaiki pemrosesan sensoris yang terganggu pada pasien dengan gangguan pencernaan fungsional.
Data ini menunjukkan bahwa penggunaan metafora yang terfokus pada gangguan usus, sugesti hipnotis untuk perbaikan fisiologis, dan imaji yang digunakan selama hipnoterapi, dapat memilih jalur saraf perifer dan sentral terkait spesifik, yang mengarah pada perubahan neuroplastis yang menguntungkan yang diinduksi oleh praktik dan penguatan selama, dan di antara sesi hipnoterapi. Ini menjelaskan manfaat fungsional, fisiologis, dan klinis yang telah diamati setelah hipnoterapi, yang dapat mendorong perubahan neuroplastis untuk mengembalikan pemrosesan ‘normal’ dari rangsangan visceral yang menyakitkan pada pasien dengan FGID.
Dengan kata lain
Data ini menunjukkan bahwa selama hipnoterapi, penggunaan metafora terkait gangguan usus, sugesti hipnotis untuk perbaikan fisik, dan imajinasi yang digunakan dapat memengaruhi jalur saraf di tubuh. Ini menyebabkan perubahan positif dalam struktur otak yang membantu dalam mengatasi gangguan pencernaan. Dengan demikian, hipnoterapi dapat membawa manfaat fungsional, fisik, dan klinis yang signifikan bagi pasien dengan gangguan fungsional saluran pencernaan.
Kesimpulan dari temuan ini adalah bahwa hipnoterapi menggunakan metafora yang terfokus pada gangguan usus, sugesti hipnotis untuk memperbaiki fungsi fisik tubuh, dan imaji yang digunakan selama terapi dapat mempengaruhi jalur saraf perifer dan sentral yang spesifik. Hal ini menyebabkan perubahan neuroplastis yang menguntungkan dalam otak, yang dipicu oleh latihan dan penguatan selama dan antara sesi hipnoterapi.
Dengan demikian, hipnoterapi dapat membantu mengembalikan pemrosesan yang normal dari rangsangan visceral yang menyakitkan pada pasien dengan gangguan pencernaan fungsional. Kesimpulan ini menunjukkan bahwa hipnoterapi memiliki manfaat fungsional, fisiologis, dan klinis yang dapat diamati pada pasien dengan gangguan pencernaan fungsional.

Gambar 2 menunjukkan perubahan aktivasi otak terkait nyeri yang disebabkan oleh hipnoterapi di Anterior Cingulate Cortex (ACC) yang terlihat pada Positron Emission Topography. Sugesti hipnotis mengenai tingkat tidak menyenangkan dari rasa sakit menghasilkan aktivitas yang lebih rendah di ACC dibandingkan dengan sugesti hipnotis yang sangat tidak menyenangkan terkait dengan rasa sakit (Direproduksi dengan izin dari Rainville P, Duncan GH, Price DD, Carrier Bt, Bushnell MC. Pain Affect Encoded in Human Anterior Cingulate But Not Somatosensory Cortex. Science 1997; 277:968–971)

Gambar 3 menunjukkan bahwa hipnoterapi mengembalikan pola aktivitas otak yang normal yang dipicu oleh distensi rektal berintensitas tinggi pada pasien IBS (Direproduksi dengan izin dari Lowén, A. ME, dkk. Efek hipnoterapi dan intervensi edukatif terhadap tanggapan otak terhadap rangsangan visceral pada sindrom usus iritabel. Alimentary Pharmacology & Therapeutics 2013; 37:1184–1197).
Hipnoterapi dalam Sindrom Usus Besar yang Tidak Teratur
Sindrom usus besar tak teratur (Irritable Bowel Syndrome/IBS), yang merupakan FGID yang paling umum, ditandai oleh nyeri perut berulang yang terkait dengan buang air besar atau perubahan kebiasaan buang air besar serta pembengkakan/perut kembung.
Tidak mengherankan, mengingat prevalensinya yang tinggi, IBS telah menjadi subjek penelitian paling banyak sejak hipnoterapi yang terfokus pada usus diperkenalkan untuk FGID pada tahun 1980-an. Mengingat fitur dan karakteristik umum yang tumpang tindih dari FGID, IBS telah terbukti menjadi model yang ideal untuk memahami bagaimana hipnoterapi dapat diterapkan dalam penelitian dan manajemen gangguan fungsional lainnya.
Pemilihan Pasien dan Indikasi Klinis
Penting untuk memastikan diagnosis klinis IBS yang kuat ditetapkan sebelum mempertimbangkan hipnoterapi. Hipnoterapi diindikasikan untuk pasien dengan gejala parah yang tidak responsif terhadap 12 bulan pengobatan farmakologis. Dalam beberapa tahun terakhir, intervensi diet telah terbukti memainkan peran signifikan dalam pengobatan FGID.
Sekarang ada bukti kuat untuk diet eksklusi dan diet rendah fermentasi oligo-, di-, dan monosakarida serta poliol (FODMAP), yang telah terbukti meningkatkan gejala pada 40%-50% pasien. Intervensi diet ini direkomendasikan sebagai terapi lini pertama untuk IBS.
FODMAP
Diet FODMAP adalah pendekatan makanan yang bertujuan untuk menghindari jenis-jenis karbohidrat tertentu dengan struktur kimia yang pendek. FODMAP adalah singkatan dari fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides, dan polyol.
Ini termasuk jenis karbohidrat yang rentan difermentasi di usus, menghasilkan gas. Oligosakarida, misalnya, terdapat dalam gandum, polong-polongan, dan bawang, sedangkan laktosa ditemukan dalam susu dan produk susu. Monosakarida seperti fruktosa dapat ditemukan dalam buah-buahan tertentu seperti apel dan pir. Sedangkan polyol adalah gula alkohol yang sering digunakan sebagai pemanis buatan dan juga terdapat dalam beberapa jenis buah seperti apel dan pir.
Dengan menghindari makanan yang mengandung FODMAP ini, diharapkan dapat mengurangi gejala gangguan pencernaan seperti gas, kembung, dan diare.
Hipnoterapi pada Gangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID) pada sebuah studi acak dengan segmentasi kecil dari Australia membandingkan hasil dari terapi lini pertama dengan enam minggu hipnoterapi versus diet rendah FODMAP, dan kombinasi dari dua pendekatan, dan menemukan bahwa ketiga pendekatan tersebut sama efektifnya dalam perbaikan gejala.
Data ini mendukung rekomendasi saat ini untuk menggunakan intervensi diet seperti diet rendah FODMAP sebagai terapi lini pertama dan hanya menggunakan Hipnoterapi terfokus pada usus untuk kasus yang lebih parah, dimana ketika semua tindakan konvensional telah gagal. Dalam prakteknya, sebagian besar pasien yang dirujuk untuk hipnoterapi untuk IBS biasanya telah mencoba diet rendah FODMAP.
Meskipun hipnoterapi dapat menjadi pilihan terapi yang efektif, penting untuk mengakui bahwa perawatan yang optimal untuk gangguan seperti IBS juga harus menggunakan berbagai strategi dan pendekatan.
Dalam konteks ini, modifikasi diet, seperti diet rendah FODMAP, juga dapat berperan penting dalam mengelola gejala dan meningkatkan hasil pengobatan. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang maksimal, perawatan haruslah holistik, mencakup berbagai aspek seperti terapi perilaku, perubahan pola makan, manajemen stres, dan pendekatan medis lainnya yang sesuai dengan kebutuhan individu.
Masalah Umur
Penelitian menunjukkan bahwa umur pasien hampir tidak memengaruhi hasil klinis dari hipnoterapi terfokus pada gangguan usus, sehingga usia tidak seharusnya menjadi hambatan untuk mengakses terapi ini. Bahkan, ada bukti yang menunjukkan bahwa hipnoterapi terfokus pada gangguan usus juga efektif pada anak-anak dan remaja yang menderita sindrom usus iritabel (IBS), dengan hasil jangka panjang yang serupa dengan yang diamati pada orang dewasa. Oleh karena itu, hipnoterapi terfokus pada gangguan usus dapat dipertimbangkan sebagai pilihan terapi yang potensial untuk semua kelompok usia yang menderita gangguan gastrointestinal fungsional (FGID).
Meskipun kami telah melihat bahwa respons klinis pada pasien yang berusia di atas 50 tahun cenderung lebih rendah daripada pada pasien yang lebih muda, namun masih ada sebagian besar dari mereka, yaitu 74%, yang mengalami peningkatan klinis yang signifikan (dalam hal ini, penurunan sebesar 50 poin dalam skor keparahan gejala IBS).
Oleh karena itu, meskipun responsnya mungkin tidak sebesar pada kelompok usia yang lebih muda, hipnoterapi masih merupakan pilihan yang layak untuk dipertimbangkan dalam kelompok usia ini, terutama pada kasus yang sulit diobati di mana terapi konvensional lainnya tidak berhasil.
Efektifitas Hipnoterapi pada Irritable Bowel Syndrome
Hipnoterapi terbukti efektif dalam mengurangi gejala yang terkait dengan gangguan usus besar, seperti nyeri perut dan pembengkakan, serta meningkatkan fungsi usus.
Hipnoterapi pada Gangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID) pada studi lainnya juga menunjukkan bahwa hipnoterapi dapat memiliki manfaat yang lebih luas, termasuk meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan, mengurangi penggunaan layanan kesehatan, dan meningkatkan produktivitas kerja. Selain itu, hipnoterapi juga dapat membantu meredakan gejala yang terkait dengan gangguan usus besar, serta meningkatkan kesejahteraan mental pasien.
Dalam sebuah studi nonexperimental or observational study design (Studi Kohort). Mengamati 1.000 pasien dewasa dengan IBS refrakter, sebanyak 76% dari mereka mencapai respons positif setelah menjalani hipnoterapi terfokus pada gangguan usus. Tingkat respons yang lebih tinggi terlihat pada perempuan, di mana 80% dari mereka menunjukkan perbaikan, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya sebesar 62%

Gambar 4 menunjukkan Skor Keparahan Gejala IBS sebelum dan setelah hipnoterapi yang difokuskan pada usus dalam kohor terbesar hingga saat ini (n = 1.000) (Diperbanyak dengan izin dari Miller V, Carruthers HR, Morris J, Hasan SS, Archbold S, Whorwell PJ. Hipnoterapi untuk sindrom iritabel usus: audit seribu pasien dewasa. Aliment Pharmacol Ther 2015; 41:844–855).
Hipnoterapi Menurunkan Gejala Gangguan Pencernaan
Hipnoterapi yang difokuskan pada gangguan pencernaan bagian atas, seperti gangguan fungsional di area esofagus, telah terbukti bermanfaat. Gangguan pencernaan bagian atas memiliki kesamaan dalam patofisiologi dengan gangguan pencernaan bagian bawah, menunjukkan sensitivitas visceral terhadap rangsangan mekanis atau kimia. Hipnoterapi yang difokuskan pada esofagus,
Misalnya, dapat mengurangi gejala pada gangguan fungsional esofageal dengan mengatasi hipervigilans dan hipersensitivitas esofageal melalui visualisasi dan metafora terkait. Pada pasien dengan nyeri dada fungsional, hipnoterapi juga terbukti efektif dalam mengurangi nyeri, meningkatkan kualitas hidup, dan mengurangi penggunaan obat, dengan manfaat yang bertahan hingga 2 tahun setelah terapi.

Gambar 5 yang memperlihatkan Manfaat jangka pendek dan jangka panjang dari hipnoterapi yang difokuskan pada saluran pencernaan dalam penanganan nyeri dada non-jantung dibandingkan dengan terapi pendukung (Diperbanyak dengan izin dari Miller V, Jones H, Whorwell PJ. Hipnoterapi untuk nyeri dada non-jantung: tindak lanjut jangka panjang. Gut 2007; 56:1643).
Fungsional Dispepsia (FD)
Fungsional Dispepsia (FD) adalah masalah pencernaan umum yang menyebabkan gejala seperti perut kenyang setelah makan, cepat kenyang, nyeri di ulu hati, dan sensasi terbakar, tanpa ada masalah struktural. Hipnoterapi yang difokuskan pada lambung bisa membantu FD dengan cara mengatur aktivitas lambung dan mengurangi gejala. Teknik Hipnoterapi ini menggunakan sentuhan dan imajinasi dengan panduan sugesti positif untuk mengubah cara kerja lambung.
Misalnya, seorang terapis bisa membimbing pasien untuk membayangkan lambung mereka bekerja dengan lebih baik, dengan lambung yang lebih tenang dan lebih sedikit menghasilkan asam lambung. Mereka juga bisa menggunakan sentuhan ringan pada perut pasien untuk membantu menciptakan rasa nyaman dan relaksasi. Dengan demikian, dengan terapi ini, pasien belajar untuk mengubah respons fisik dan psikologis mereka terhadap makanan dan pencernaan mereka, membantu mengurangi gejala FD
Studi menunjukkan bahwa hipnoterapi bisa lebih baik daripada perawatan biasa, dengan 73% pasien merasakan perbaikan setelah 12 bulan, dan juga mengurangi kunjungan ke dokter dan penggunaan obat.

Gambar 6 Efektivitas hipnoterapi yang difokuskan pada saluran pencernaan dibandingkan dengan terapi medis dan perawatan pendukung dalam Dispepsia Fungsional (Direproduksi dengan izin dari Calvert EL, Houghton LA, Cooper P, Morris J, Whorwell PJ. Peningkatan jangka panjang dalam dispepsia fungsional menggunakan hipnoterapi. Gastroenterologi 2002; 123:1778–1785)
CENTRALLY MEDIATED ABDOMINAL PAIN
Centrally Mediated Abdominal Pain Syndromel (CAPS) adalah sebuah gangguan pencernaan yang baru-baru ini didefinisikan kembali, relatif jarang tetapi parah, yang didefinisikan sebagai nyeri abdomen kronis yang berkelanjutan yang sedikit terkait dengan peristiwa fisiologis makan, buang air besar, dan menstruasi dan menyebabkan kehilangan fungsi sehari-hari.
Pada gangguan seperti Central Abdominal Pain Syndrome (CAPS), meskipun penyebab nyeri belum sepenuhnya dipahami, diyakini bahwa nyeri ini disebabkan oleh sensitivitas pusat dalam sistem saraf. CAPS bisa sulit diobati dan sering kali menyebabkan pasien datang berkali-kali dengan keluhan yang mengganggu secara psikologis, meskipun hasil pemeriksaan medis biasanya negatif. Hal ini mengakibatkan biaya kesehatan yang tinggi dan kehilangan waktu kerja.
Oleh karena itu, pasien CAPS sering menunjukkan perilaku menghindari dan cenderung untuk merasakan rasa takut serta karakteristik negatif seperti mengkhawatirkan nyeri secara berlebihan, kekhawatiran yang berlebihan, kesabaran yang rendah, dan ketidakfleksibelan mental. Inilah yang membuat hipnoterapi yang difokuskan pada usus menjadi pilihan terapi yang menarik. Meskipun belum ada bukti khusus untuk penggunaan hipnoterapi pada CAPS di kalangan dewasa, terapi ini terbukti efektif pada anak-anak.
AREA UNTUK PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DI MASA DEPAN
Paper inimenyajikan argumen yang kuat untuk penggunaan hipnoterapi dalam mengobati Gangguan Fungsional Gastrointestinal (FGID) dan telah merangkum manfaat serta keterbatasannya dalam Tabel 1. Meskipun bukti untuk efektivitas hipnoterapi semakin meningkat, salah satu tantangannya adalah akses terbatas ke layanan kesehatan yang memadai. Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk mencari cara baru dalam menyediakan layanan yang efektif secara lebih luas. Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah pengiriman hipnoterapi secara kelompok, yang dapat membantu meningkatkan akses terhadap pengobatan ini.
Dalam uji coba, hipnoterapi kelompok menunjukkan efektivitas yang baik (61% vs. 41%) dibandingkan dengan pengobatan medis standar, dengan hasil yang tetap baik setahun setelah pengobatan. Meskipun hipnoterapi individual sedikit lebih efektif, hipnoterapi kelompok tetap layak dipertimbangkan untuk meningkatkan akses. Namun, hipnoterapi kelompok cenderung bersifat umum dan mungkin kurang cocok untuk kasus yang lebih parah. Idealnya, itu cocok untuk perawatan primer di banyak praktik yang berbeda. Tantangan lain termasuk hasil yang lebih baik di pusat penelitian daripada di lingkungan komunitas yang lebih kecil.
Perbedaan Penggunaan di tempat khusus (spesialis) dan pusat non-spesialis
Perbedaan dalam hasil hipnoterapi antara pusat penelitian yang di spesialis dan pusat non-spesialis dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah perbedaan dalam pelatihan terapis. Selain itu, perbedaan dalam keparahan gejala dan karakteristik pasien juga memainkan peran penting.
Pasien yang dirawat di pusat-pusat spesialis mungkin memiliki gangguan yang lebih kompleks dengan faktor-faktor psikologis yang lebih signifikan. Misalnya, pasien dengan skor keparahan gejala yang lebih tinggi cenderung merespons lebih baik terhadap hipnoterapi. Rekomendasi dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE) Inggris juga menyarankan hipnoterapi untuk pasien yang tidak merespons terhadap intervensi farmakologis dan diet, terutama pada kelompok pasien dengan IBS yang sulit diobati.
Rekomendasi dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE) Inggris menyatakan bahwa hipnoterapi sebaiknya dipertimbangkan sebagai pilihan pengobatan bagi pasien yang tidak merespons terhadap pengobatan obat-obatan dan perubahan diet, terutama untuk kelompok pasien dengan IBS yang sulit diobati. Ini menunjukkan bahwa hipnoterapi dapat menjadi alternatif yang efektif untuk pasien yang belum merespons baik terhadap intervensi konvensional.
Sebagai contoh, jika seorang pasien mengalami Sindrom Usus Besar yang Sulit diobati (IBS) dan tidak menunjukkan perbaikan setelah mencoba berbagai jenis obat-obatan dan mengubah pola makan mereka, rekomendasi dari NICE mungkin mencakup pilihan untuk mencoba hipnoterapi sebagai bagian dari rencana pengobatan mereka. Meskipun hipnoterapi tidak selalu menjadi solusi tunggal, ini dapat menjadi tambahan yang efektif atau bahkan lebih efektif untuk mengurangi gejala yang dialami pasien yang sulit diobati.
Tabel 1 Manfaat dan keterbatasan hipnoterapi berfokus pada usus untuk gangguan pencernaan fungsional

Ini berarti bahwa untuk memaksimalkan manfaat dari terapi hipnoterapi fokus pada gangguan usus, penting untuk menentukan jumlah sesi yang optimal. Saat ini, belum ada penelitian yang cukup untuk memberikan panduan pasti mengenai berapa banyak sesi yang ideal.
Namun, praktek hipnoterapi saat ini biasanya menawarkan antara 6 hingga 12 sesi (Tiap minggu). Meskipun respons pasien pada minggu ke-6 dapat menjadi indikator bagus untuk melihat respons yang baik pada minggu ke-12, studi menunjukkan bahwa hasil dari kursus hipnoterapi yang lebih pendek, seperti hanya 6 sesi, mungkin tidak bertahan lama seperti hasil dari 12 sesi. Oleh karena itu, penentuan jumlah sesi yang tepat menjadi penting untuk mencapai efek jangka panjang yang optimal.
Intervensi Neurogastroenterologi Perilaku
Begitu pula dari pengalaman dalam intervensi Neurogastroenterologi perilaku lain seperti terapi bio umpan balik lantai panggul, kemungkinan satu pendekatan tidak cocok untuk semua dalam hal tindak lanjut. Pasien pria khususnya dan mereka dengan gejala paling parah kemungkinan akan membutuhkan lebih banyak sesi, sementara individu yang sangat termotivasi termasuk mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk latihan mandiri di rumah mungkin akan mencapai hasil yang lebih baik setelah sesi yang lebih sedikit.
Hipnoterapi pada Gangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID) pada studi lebih lanjut untuk lebih memahami faktor prediktif terhadap hasil hipnoterapi yang berhasil akan membantu menyesuaikan intensitas pengobatan, mengurangi tingkat putus sekolah, dan meningkatkan manajemen sumber daya. Selain terapi hipnoterapi fokus usus, ada beberapa perawatan perilaku lain yang menjanjikan seperti terapi kognitif perilaku dengan tingkat bukti level 1 dalam FGID.
Teknik-teknik ini, meskipun di luar ruang lingkup artikel ini, patut dipertimbangkan, terutama ketika hipnoterapi tidak tersedia. Sayangnya, sampai saat ini, belum ada studi perbandingan yang dipublikasikan antara perawatan perilaku lain ini dan hipnoterapi, yang seharusnya menjadi subjek penelitian di masa depan. Terakhir, seperti yang dijelaskan dalam tinjauan ini, terapi hipnoterapi fokus usus hanya dievaluasi dalam beberapa dari 33 FGID yang dijelaskan, dan oleh karena itu, studi masa depan mungkin mengeksplorasi efektivitasnya dalam FGID yang lebih jarang dengan patofisiologi yang tumpang tindih.
Kesimpulan
Kesimpulan Hipnoterapi pada Gangguan Gastrointestinal Fungsional (FGID) yang difokuskan pada gangguan saluran pencernaan adalah pengobatan yang sangat dapat disesuaikan dan efektif untuk gangguan pencernaan fungsional yang sulit diobati yang dapat disesuaikan dengan gejala pasien.
Tidak hanya secara konsisten terbukti lebih unggul dari perawatan medis standar, hipnosis juga memiliki keuntungan tambahan dalam meningkatkan gejala ekstra-intestinal FGIDs, memperbaiki fungsi psikologis, kognitif, dan kualitas hidup, serta mengurangi penggunaan layanan kesehatan. Oleh karena itu, ahli gastroenterologi sebaiknya mempertimbangkan secara serius rujukan untuk hipnoterapi pada pasien dengan gangguan pencernaan fungsional yang sulit diobati.
Sumber
Vasant, Dipesh H., and Peter J. Whorwell. “Gut-focused hypnotherapy for Functional Gastrointestinal Disorders: Evidence-base, practical aspects, and the Manchester Protocol.” Wiley Neurogastroenterology & Motility (2019): nmo.13573.’ [Ke Jurnal]
Coach Risman Aris, BCH, CSHt, CI
Intreperter & Analysist Journal Hypnosis
Ingin mengikuti pelatihan Hipnoterapi standar Internasional ? [KLIK]
