Neurofisiologi hipnosis merupakan bidang studi yang terus berkembang, diwarnai dengan berbagai teori dan interpretasi. Proses neurofisiologis yang terjadi selama hipnosis belum sepenuhnya dipahami, namun riset dan studi terbaru memberikan wawasan penting tentang apa yang terjadi di otak selama keadaan hipnosis.

Mengapa Neurofisiologi Hipnosis Penting?
Hipnosis telah lama menjadi konsep yang misterius bagi ilmu pengetahuan karena kurangnya indikator neurobiologis objektif dari keadaan hipnosis. Namun, kemajuan pesat dalam ilmu saraf dalam beberapa dekade terakhir (terutama dengan diperkenalkannya teknik elektrofisiologi dan neuroimaging yang canggih) telah membuka “jembatan pengetahuan” antara studi neurofisiologi klasik dan studi psiko-fisiologi tentang kognisi, emosi, dan sistem sensorik. Hal ini menjadi dasar bagi neurofenomenologi (De Benedittis, 2015).
Hipnosis sebagai Proses Psikobiologis yang Diakui
Hipnosis kini semakin diakui oleh komunitas ilmiah internasional sebagai intervensi yang dapat diandalkan untuk mengendalikan sindrom klinis tertentu, diakui sebagai keadaan dan proses psikobiologis yang sesungguhnya. Hipnosis dijelaskan dengan model yang lebih komprehensif yang melibatkan aspek biopsiko-sosial (De Benedittis, 2015).
Perubahan Otak Selama Hipnosis
Alterasi persepsi selama hipnosis disertai dengan perubahan signifikan pada korteks sensorik, serta di area otak yang terlibat dalam pemantauan konteks (dorsal anterior cingulate gyrus) dan fungsi eksekutif (DLPFC). Hipnosis tidak hanya mengubah respons terhadap input sensorik, tetapi juga sensasi itu sendiri, menjadikannya alat yang sangat efektif dalam mengatur rasa sakit dan kecemasan (Spiegel, 2013).
Proses Otak yang Terjadi Selama Hipnosis
Hipnosis mengubah cara otak beroperasi, di mana pola aktivitas besar yang sangat terkoordinasi (attractors) tidak dapat berkembang, sehingga pengalaman sadar terhadap gejala-gejala tersebut tidak dapat muncul. Hipnosis menghambat proses ini dengan memodulasi berbagai mekanisme neurokognitif di berbagai area kortikal dan subkortikal pada pasien (Bastek; van Vliet, 2023).
Pengaruh Hipnosis pada Aktivitas Otak
Studi neuroscience mendukung hal ini dengan menunjukkan bahwa proses tidak sadar menjelaskan perilaku atau kesadaran (Weinberger; Brigante; Nissen, 2022). Beberapa peneliti berpendapat bahwa hipnosis hanya dapat dipahami sepenuhnya jika faktor biologis, psikologis, dan sosial dipertimbangkan (Bastek; van Vliet, 2023). Faktor-faktor seperti motivasi pasien, kemampuan untuk berabsorbsi, dan sikap terhadap hipnosis memainkan peran penting dalam respons hipnotik.
Perubahan Gelombang Otak dan Respons Hipnosis
Selama hipnosis, ada perubahan dalam pola osilasi gelombang otak, terutama peningkatan dalam osilasi gamma. Respon hipnosis berkaitan dengan perubahan dalam pola-pola osilasi gamma. Ini mungkin melibatkan peningkatan, penurunan, atau modifikasi dalam waktu osilasi gamma, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sugesti yang diberikan selama hipnosis. Gelombang gamma yang terkunci fase berperan dalam merekam dan mengingat memori deklaratif, yang juga memainkan peran kunci dalam beberapa respons hipnotik (Jensen; Adachi; Hakimian, 2015).
Fungsi Korteks Prefrontal dalam Hipnosis
Aktivitas korteks prefrontal, yang terlibat dalam penilaian, pengambilan keputusan, dan kesadaran diri, mengalami modifikasi selama hipnosis. Penurunan aktivitas di area ini mungkin menjelaskan penangguhan sementara dari penilaian kritis dan peningkatan penerimaan sugesti (Vanhaudenhuyse; Laureys; Faymonville, 2014; Wolf et al., 2022).
Peningkatan Konektivitas Otak Selama Hipnosis
Studi neuroimaging menunjukkan peningkatan konektivitas fungsional antara berbagai wilayah otak selama trans hipnotik. Hal ini menunjukkan adanya komunikasi yang lebih efisien antara area-area otak, yang dapat memfasilitasi respons terhadap sugesti dan perubahan dalam pemrosesan kognitif.
Modulasi Persepsi Sensorik dan Kontrol Nyeri dalam Hipnosis
Hipnosis dapat memengaruhi daerah otak yang terkait dengan persepsi nyeri, yang menyebabkan penurunan intensitas nyeri yang dirasakan (Cheseaux; de Saint Lager; Walder, 2014). Oleh karena itu, hipnosis banyak digunakan untuk kontrol nyeri dalam prosedur medis, termasuk pengurangan kebutuhan untuk anestesi.
Aktivasi Area Otak Terkait Imajinasi dan Kontrol Motorik
Selama hipnosis, area otak yang terlibat dalam imajinasi dan kontrol motorik tampaknya teraktivasi. Hal ini menjelaskan kemampuan individu dalam keadaan hipnotik untuk merespons sugesti untuk melakukan aksi motorik tertentu atau membayangkan pengalaman tertentu.
Neurotransmitter yang Terlibat dalam Respons Hipnosis
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin terlibat dalam meningkatkan sugestibilitas hipnosis. Glutamat juga terlibat dalam respons hipnosis, sementara GABA (gamma-aminobutyric acid) dikaitkan dengan sugestibilitas. Semakin tinggi konsentrasi GABA, semakin responsif seseorang terhadap hipnosis (DeSouza et al., 2020).
Namun, interaksi yang kompleks antara neurotransmitter dan neuromodulator serta variabel lain membuat pemahaman penuh tentang mekanisme hipnosis masih dalam tahap pengembangan.
Kesimpulan: Hipnosis sebagai Alat yang Efektif dalam Terapi
Dalam dunia medis dan psikoterapi, hipnosis semakin diakui sebagai teknik yang valid dan dapat diandalkan untuk berbagai masalah klinis, termasuk kontrol nyeri, kecemasan, dan gangguan psikologis lainnya. Pemahaman neurofisiologi hipnosis yang lebih dalam akan semakin membuka potensi besar dalam aplikasi hipnoterapi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan perkembangan riset neurofisiologi, hipnosis diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam pengobatan berbagai gangguan fisik dan psikologis di masa depan.
Referensi:
Barbosa, F. C., Tadine, R. M., Rezende, J. D. P., Lopes, G. C. D., Attie, A., Machado, S., & Barbosa, E. S. (2024). Neuroscience of Hypnosis: A Neurophysiological View of Hypnotherapy. RGSA – Revista de Gestão Social e Ambiental, 18(4), 1-11. https://doi.org/10.24857/rgsa.v18n4-077.
